Kamis, 22 Maret 2012

Pujian Menurut Alkitab


05.12 | ,



ARTI PUJIAN

Dalam PL kata untuk pujian antara lain halal, yg akar katanya berarti riuh; yada, pada mulanya dihubungkan dengan perbuatan dan sikap raga yg menyertai pujian; dan zamar, dihubungkan dengan memainkan atau menyanyikan nyanyian disertai musik. Untuk pujian PB menggunakan kata eukharistein (harfiah, 'mengucapkan terima kasih'). Kata ini mengandung arti bahwa orang yg memuji lebih akrab dengan Yg dipuji, ketimbang arti yg terkandung dalam kata formal eulogein, 'memberkati'.

Seluruh Alkitab dipenuhi luapan pujian. Puji-pujian itu secara spontan bangkit dari lubuk hati yg paling dalam, yaitu kegirangan yg mencirikan hidup umat Allah. Allah senang dan bergembira karena karya ciptaan-Nya (Kej 1; Mzm 104:31; Ams 8:30-31), dan segala makhluk, termasuk malaikat, mengungkapkan kegembiraan mereka dalam pujian (Ayb 38:4-7; Why 4:6-11). Manusia juga diciptakan untuk bergirang dalam karya-karya Allah (Mzm 90:14-16) dan memenuhi tujuan ini dengan menerima pemberian-pemberian Allah (Pkh 8:15; 9:7; 11:9; Flp 4:4, 8; bnd juga W Eichrodt, Man in the Old Testament, 1951, hlm 35).

Kedatangan kerajaan Allah di dunia ini ditandai oleh pemugaran kegembiraan dan pujian bagi umat Allah dan seluruh penciptaan (Yes 9:2; Mzm 96:11-13; Why 5:9-14; Luk 2:13-14). Nikmat pendahuluannya diberikan dalam upacara dan kebaktian di Bait Suci, dimana puji-pujian bangkit semata-mata dari kegirangan oleh kehadiran Allah yg menyelamatkan (Ul 27:7; Bil 10:10; Im 23:40). Pujian kepada Allah diberikan di dunia ini karena karya-Nya, baik dalam penciptaan maupun penyelamatan (Mzm 24; 136), dan merupakan gema pujian sorgawi di dunia ini (Why 4:11; 5:9-10). Karena itu pujian mencirikan umat Allah (1 Ptr 2:9; Ef 1:3-14; Flp 1:11). Ciri orang kafir ialah penolakan mereka memberikan pujian kepada Allah (Rm 1:21; Why 16: 9). Perbuatan memuji mencakup persekutuan paling erat dengan Sang terpuji. 'Pujian bukan hanya mengungkapkan tapi juga melengkapkan kegirangan; pujian adalah kesempurnaan kegirangan yg memang menjadi tujuannya .... Pada saat memerintahkan manusia untuk memuliakan Dia, Allah mengundang manusia untuk menikmati-Nya' (C. S Lewis, Reflections on the Psalms, 1958, hlm 95).

Namun memuji Allah sering diperintahkan kepada manusia sebagai kewajiban, dan jelas tidak bergantung pada suasana perasaan atau keadaan (bnd Ayb 1:21). 'Bersukacita di hadapan Tuhan' adalah bagian dari upacara yg diatur bagi kehidupan umum umat-Nya (Ul 12:7; 16:11-12), dimana orang saling membantu dan menghibur untuk menaikkan pujian. Sekalipun ada mazmur-mazmur yg mengungkapkan pujian perseorangan, namun senantiasa dirasakan bahwa pujian lebih baik dinaikkan di tengah-tengah jemaat (Mzm 22:25; 34:3; 35:18). Dengan demikian pujian itu bukan hanya memuji dan menyenangkan Allah saja (Mzm 50:23), tapi juga menjadi kesaksian kepada umat Allah (Mzm 51:12-15).

Untuk menaikkan pujian di Bait Suci, orang Lewi mengeluarkan tata cara yg rinci. Mazmur-mazmur dipakai dalam tata ibadah dan dalam pawai kudus dengan 'sorak-sorai dan nyanyian syukur' (Mzm 42:5). Caranya menyanyi: barangkali antifonal, melibatkan dua koor, atau solis dan koor. Menari, yg sejak zaman terkuno menjadi alat untuk mengungkapkan pujian (Kel 15:20; 2 Sam 6:14) juga dipakai di Bait Suci (Mzm 149:3; 150:4). Mzm 150 mendaftarkan alat-alat musik yg dipakai dalam pujian. (*MUSIK DAN ALAT-ALATNYA.)

Masyarakat Kristen pertama meneruskan pengungkapan kegirangan mereka dengan mengikuti kebaktian di Bait Suci (Luk 24:53; Kis 3:1). Tapi pengalaman mereka mengenai hidup baru dalam Kristus memaksa mereka untuk mengungkapkan pengalaman itu dalam bentuk-bentuk pujian yg baru (Mrk 2:22). Kegiranganlah yg menguasai suasana hidup kristiani. Kebaktian formal dan pujian yg dijiwainya tidak secara khusus diuraikan atau diatur, sebab hal itu dianggap berjalan dengan sendirinya. Seperti halnya mereka yg mengalami dan menyaksikan kuasa penyembuhan dan pentahiran oleh Tuhan Yesus, secara spontan meluapkan pujian (Luk 18:43; Mrk 2:12). Demikianlah dalam gereja rasuli ada beberapa contoh peluapan pujian secara spontan demikian, bila orang mulai melihat dan mengerti kekuasaan dan kebaikan Allah dalam Kristus (Kis 2:46; 3:8; 11:18; 16:25; Ef 1:1-14).

Dapat dipastikan bahwa Mzm dipakai dalam pujian gereja kuno (Kol 3:16; bnd Mat 26:30). Ada juga nyanyian kristiani baru (bnd Why 5:8-14), seperti disebut dalam Kol 3:16; 1 Kor 14:26. Beberapa contoh dari puji-pujian baru itu terdapat dalam Pujian Maria, Pujian Zakharia, Pujian Simeon (Luk 1:46-55, 68-79; 2:29-32). Di tempat lain dalam PB terdapat beberapa contoh pujian formal dari gereja kuno. Dari bentuk susastra dan isi agaknya Flp 2:6-11 disusun dan dipakai sebagai nyanyian pujian kepada Kristus. Di bagian-bagian PB seperti Ef 5:14 dan 1 Tim 3:16 nampaknya mendengung gema atau kutipan-kutipan dari nyanyian-nyanyian kuno. Puji-pujian dalam Why (bnd Why 1:4-7; 5:9-14; 15:3-4) agaknya dipakai dalam kebaktian umum untuk mengungkapkan pujian jemaat (bnd A. B Macdonald, Christian Worship in the Primitive Church, 1934).

Hubungan erat antara pujian dan korban persembahan perlu diperhatikan. Dalam upacara mempersembahkan korban zaman PL terdapat tempat bagi persembahan ucapan syukur disamping persembahan penghapus dosa (bnd Im 7:11-21). Ucapan syukurlah motivasi asasi bagi persembahan buah sulung di mezbah (Ul 26:1-11). Dalam persembahan pujian yg sungguh-sungguh itu sendiri terkandung penyembahan yg menyenangkan Allah (Ibr 13:15; Hos 14:2; Mzm 119:108). Dalam pengorbanan diri Tuhan Yesus sebagai Imam, segi ucapan syukur ini mendapat tempatnya (Mrk 14:22-23, 26; Yoh 17:1-2; Mat 11:25-26). Sesuai dengan itu hidup orang Kristen seharusnyalah pengorbanan diri (Rm 12:1) sebagai pemenuhan imamat rajawinya (Why 1:5-6; 1 Ptr 2:9). Fakta bahwa persembahan pengorbanan diri seperti itu dapat dilakukan dengan cara yg nyata di tengah-tengah penderitaan, menghubungkan penderitaan dan pujian bersama-sama dalam hidup kristiani (Flp 2:17). Ucapan syukur bukan hanya menguduskan penderitaan, tapi segala segi hidup orang Kristen (1 Tim 4:4, 5; 1 Kor 10:30-31; 1 Tes 5:16-18). Entah apa pun yg lain yg menjadi beban doa, doa itu harus mencakup pujian (Flp 4:6).

KEPUSTAKAAN. H Ringgren, The Faith of the Psalmists, 1963; C Westermann, The Praise of God in the Psalms, 1965; A. A Anderson, The Book of Psalms, 1972, 1, hlm 31-36; H-G Link, NIDN1T 1, hlm 206-215; H Schultz, H.-H Esser, NIDNTT 3, hlm 816-820. RSW/HH


You Might Also Like :


0 komentar:

Posting Komentar